​Keberadaan Komunitas Gay Di Batu, Ini Kata Psikolog Sayekti Pribadiningtyas S.Psi, M.Pd, Psikolog

Psikolog, Sayekti Pribadiningtyas
Psikolog, Sayekti Pribadiningtyas

Batu, MALANG-NEWS.COM – Menyikapi terkait dengan penggerebekan sembilan pria yang mengaku tergabung dalam Ikatan Gay Kota Batu (IGABA) di pemandian air panas di Songgoriti, Kota Batu, pada Sabtu malam (29/7/17) kemarin. Praktisi Psikologi Klinis di Pukesmas Batu yang juga seorang Trainner dan Motivator nasional, Sayekti Pribadiningtyas, S.psi, mengungkapkan, bahwasanya hal tersebut di lihat dari sudut pandang kacamata psikologis, bahwa kaum Gay tersebut sebenarnya ingin mendapat pengakuan dari publik tentang keberadaan mereka.

“Ya kalau saya melihat di dalam ilmu Psikologi bahwasanya homoseksual tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Artinya lebih pada preferensi seksual yang dipengaruhi kondisi perkembangan, lingkungan sosial, atau faktor genetik itu sendiri. Tidak dapat didiagnosis sebagai sebuah gangguan mental. Bahkan jika memang mereka ingin kembali menjadi heteroseksual, ini soal preferensi (pilihan) hidup mereka,” kata dia, Senin (31/7/17)

Menurutnya, Homoseksual, bukan juga faktor utama penyebab seseorang kecanduan seks. Para homoseksual, tersebut, memang memiliki kecenderungan lebih terbuka dengan aktivitas seksual mereka, tapi bukan berarti mereka kecanduan seks. Bagaimanapun, Sayekti mengakui bahwasanya aktivitas yang dilakukan homoseksual masih dianggap bertentangan dengan moral dan norma yang berlaku di masyarakat Indonesia saat ini, apalagi kita hidup di budaya timur.

“Ya berdasarkan dari DSM 5 patokan psikiater dan psikolog Gay bukan kelainan jiwa hanya berdasarkan orientasi seksual. Dan nanti kalau kita salah berbicara, mereka nanti mengkategorikan sebagai pelanggaran HAM. Sehingga kalau kita memasuki wilayah mereka dengan mengatakan pelarangan, mereka pasti beranggapan “suka-suka saya, ini hak kami”.

Terkait dengan mereka mulai Eksis, kita hanya bisa melihat sebatas pergerakan, diharapkan mereka bisa bertingkah laku sama. Maksudnya kalau toh mereka tertarik pada sejenisnya, ya berbuatlah seperti orang heteroseksual artinya, setia kepada satu pasangan saja, selayaknya seperti suami istri tanpa harus berganti-ganti pasangan.

“Ya karena kecanduan seksual ini juga bisa dialami bagi mereka yang heteroseksual, akan tetapi belum tentu juga, bagi mereka yang homoseksual tersebut, artinya seperti orang menikah yang setia kepada pasangannya,” tandas Dosen Akademi Pariwisata Dan Perhotelan (APARTEL) Kota Malang ini.