​Meriah! Pemkot Batu Gelar Karnaval Umum

Punjul Santoso, wakilwalikota Batu saat melepas peserta karnaval di jalan Sultan Agung Kota Batu
Punjul Santoso, wakilwalikota Batu saat melepas peserta karnaval di jalan Sultan Agung Kota Batu

MALANG-NEWS.COM – Rayakan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-72, Pemkot Batu menggelar karnaval, Minggu (20/8/17). Karnaval bertema Pancasila itu benar-benar meriah, meski membuat arus lalu lintas di kawasan Kota Batu macet total.

Itu karena, setidaknya ada 4500 orang ikut berparade dalam karnaval itu. Mereka terbagi dalam 45 kontingen yang mewakili instansi, parpol, kecamatan, hingga kelurahan dan desa.

Pawai tersebut dimulai start dari Stadion Brantas Kota Batu. Sedangkan finish di depan Balai Kota Batu lama di Jalan Panglima Sudirman hingga ke Balai Kota Amomg Tani, Kota Batu.

Para peserta mengenakan beragam kostum dan pakaian adat dari berbagai daerah. Termasuk dari sembilan parpol yang juga ikut andil dalam karnaval tersebut.

Seperti halnya Partai Amanah Nasional (PAN). Mereka menampilkan teatrikal perobekan bendera Belanda di atas dekorasi Hotel Oranje di Surabaya.

Tak hanya itu, Kantor Perusahaan Air Minum (PDAM) Kota Batu tak mau kalah. Perusahaan daerah yang dimotori Direkturnya, Edy Sunaedi juga ikut berpawai.

Pria yang akrab disapa Shokeh ini beserta puluhan karyawan PDAM Kota Batu memakai kostum adat Bali. Maklum, dia mengangkat sub tema Bhinneka Tunggal Ika.

Praktis para karyawannya memakai kostum adat istiadat dari berbagai penjuru tanah air. Mulai dari pakai Bali, NTT, Minangkabau, Irian dan sebagainya.

“Ya mulai dari Sabang sampai Meraoke,” kata Shokeh sembari mengakui bila memang belum dilengkapi dengan kostum koteka yang merupakan pakaian adat Papua.

Selain itu Sokeh menambahkan, bila juga mengangkat materi tentang kepahlawanan. Makanya, beberapa Pahlawan Indonesia dijadikan nama jalan di Kota Batu. Termasuk pahlwan asli Kota Batu.

“Memang ini bertujuan untuk mengangkat nama Pahlawan lokal asli Wong Batu yang telah gugur di medan perang melawan belanda. Harapannya agar nama-nama para pejuang tersebut terus dikenang,” jelas dia.

Untuk itu, kata Sokeh, nama mereka dijadikan nama jalan. Disebutkan seperti Jalan Kasan Kaiso, Ikhwan Hadi, Jalan Sudarno dan Jalan Munif,M Sahar serta Jalan Bejo.

“Mereka semua merupakan Pahlawan lokal yang gugur dalam peperangan saat melawan penjajah. Karena itu mereka harus mendapat penghargaan dan penghormatan,” papar mantan aktivis LIRA ini.