​Polres Kota Malang Gelar Dialog Lintas Agama, Antisipasi Agar Kasus Rohingnya Tidak Menjalar

Dialog lintas agama yang digelar oleh Polres Malang
Dialog lintas agama yang digelar oleh Polres Malang

MALANG-NEWS.COM – Antisipasi dan pengaruh persoalan Rohingnya, Polres Malang gelar dialog lintas agama. Hal itu sebagai upaya untuk mempertahankan situasi kondusif di Kabupaten Malang agar tidak terpancing dan terbawa persoalan Rohingnya di Myanmar.

Wakapolres Malang, Kompol Deky Hermansyah mengatakan, persoalan di Rohingnya sebenarnya bukan persoalan agama. Namun lebih sebagai persoalan etnis di negara Myanmar. Hanya saja, ada pihak-pihak yang seolah menjadikan persoalan di Rohingnya sebagai persoalan agama yang korbannya warga Islam.

“Ini yang perlu diketahui oleh semuanya, apalagi sampai ada rencana dan ajakan dari sekelompok masyarakat untuk mengepung Candi Borobudur sebagai balasan. Jelas itu menurut kami adalah ajakan kesalahan dalam menyikapi persoalan Rohingnya,” kata Decky Hermansyah dalam dialog lintas agama yang diikuti FKUB, MUI, PCNU, dan tokoh agama di Kabupaten Malang, Jumat (8/9/17).

Meski demikian, dikatakan Decky Hermansyah, walaupun untuk wilayah Kabupaten Malang tidak terpengaruh dan tidak ada gejolak atas persoalan Rohingnya, jajaran Polres Malang tetap melakukan peningkatan pengamanan.

Di antaranya dengan melakukan patroli di tempat-tempat ibadah umat Hindu dan Budha yang ada di Kabupaten Malang.

“Alhamdulillah, selama empat hari patroli tidak ada masalah yang patut diwaspadai. Justru kami melihat antar umat toleransinya semakin terjaga dengan baik. Kami pun terus berusaha memberikan pemahaman yang benar kepada warga masyarakat,” ucap Decky Hermansyah.

Sementara Wakil Bupati Malang, H Sanusi mengatakan, isu sara menjadi ancaman yang patut diwaspadai. Di mana isu tersebut bisa membenturkan umat beragama di kabupaten malang sebagai dampak dari kejadian di Rohingya.

“Untuk itu, pemberian penjelasan resmi terkait kondisi sebenarnya untuk menjaga kondusifitas wilayah sangat diperlukan,” kata Sanusi.

Maka dari itu, ungkap Sanusi, situasi kondusif di Kabupaten Malang harus dijaga bersama-sama. Artinya, tugas menjaga situasi kondusif tidak hanya dilakukan oleh aparat Kepolisian saja, melainkan semua lapisan masyarakat harus ikut menjaganya.

“Tetapi persoalan itu harus disikapi dengan tindakan yang selalu baik. Makanya kami sangat mengapresiasi dialog lintas agama ini,” ucap Sanusi.

Sedangkan Ketua PCNU Kabupaten Malang, Umar Usman mengatakan, kewaspadaan pada hal-hal yang sifatnya ajakan merusak memang harus diwaspadai. Karena sekarang ini dirasakan ada kelompok-kelompok yang selalu memanfaatkan isu apapun demi kepentingan kelompoknya tersebut.

Seperti persoalan Rohingnya yang dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mencari pendukung dan pengikut demi kepentingannya.

“Fenomena itulah yang harus disadari dan diwaspadai bersama. Jangan sampai kelompok tersebut berhasil menciptakan situasi buruk melalui isu dan persoalan yang dibumbui berbagai macam hal demi tercapai kepentingan mereka,” kata Umar Usman.

Oleh karena itu, tambah Umar Usman, pihaknya mengapresiasi pertemuan dan koordinasi lintas agama dalam menyikapi berbagai persoalan yang dirasa bisa mengancam kondusifitas wilayah.

“Kami dari umat Nahdliyin senantiasa menyiapkan diri dalam menghadapi semua persoalan yang mengancam bangsa dan negara Indonesia,” tutur Umar Usman. (MN)